Produksi Garam Menurun Drastis

  • Whatsapp
Kerja keras petambak garam untuk memperbanyak produksi di Desa Nambakor, Kecamatan Saronggi, Sumenep. (Foto: Imam Mahdi)

KABAR SUMENEP | Target produksi garam tahun 2021 menurun drastis, hal itu terlihat dari data tahun sebelumnya. Di mana tahun 2020 target produksi sebesar sebesar 236.000 ton. Sedangkan tahun 2021 hanya 192.947 ton. Sehingga target produksi garam berkurang 43.053 ton dari tahun sebelumnya.

Kepala bidang (Kabid) Perikanan Budidaya Dinas Perikanan (Diskan) Sumenep Sri Harjani mengatakan, penyebab turunnya target produksi belum diketahui pasti. Sebab, ia mengkau yang menentukan target adalah pemerintah pusat.

Bacaan Lainnya

“Untuk capaian saat ini sebanyak 64,35 dengan luasan 505,05 hektar, itu pun hanya di Kalianget yang melakukan produksi,” katanya, Selasa (15/6/2021).

Perempuan yang akrab disapa Sri ini menambahkan, luas lahan garam rakyat yakni 1.967,42 hektar yang terhimpun di 11 kecamatan. Capaian produksi garam tahun ini jelas sedikit dibandingkan tahun lalu. Sebab, disamping harga murah juga dikarenakan curah hujan tinggi.

“Produksi tahun ini dimulai pada Mei 2021,” ucap dia.

Menurutnya, pada tahun 2019 lalu produksi Garam rakyat mencapai 332.009,60 ton dari target produksi 236.000 ton. dengan stok garam di tahun 2019 sebanyak 102.820,35 ton. Sementara tahun 2020 mencapai 50.009,64.

“Untuk stok garam saat ini sebanyak 64.633,16 ton,” papar dia.

Ditegaskannya, saat ini dinasnya terus melakukan upaya agar rakyat banyak memproduksi garam. Tetapi, jika petambak beralasan karena harga, dirinya belum dapat menemukan solusi. Sebab, mengenai harga menjadi masalah nasional.

“Kami senantiasa berkoordinasi dengan pemerintah pusat mengenai harga garam. Namun, hingga saat ini belum ampuh. Kami juga bolak-balik ke pemerintah pusat,” tegasnya.

Menurutnya, harga garam saat ini kisaran Rp250 hingga Rp300 per kilo, ada juga yang Rp125 per kilo seperti di Gili Genting.

Dia mengakui, pada umumnya, produksi garam di seluruh penjuru Indonesia termasuk Sumenep masih mengandalkan cuaca. Jika cuaca tidak mendukung seperti ketika kemarau minim, diakuinya berpengaruh pada produksi garam.

“Tetapi kami mengakui cuaca saat ini bagus, hanya saja harganya murah. Sehingga petambak enggan memproduksi garam,” ucap dia.

Petambak Garam Asal Pinggir Papas sekaligus Pembantu Tenaga Kerja Keamanan Kristal Mohammad Lasudin mengatakan, saat ini cuaca membaik. Oleh karena itu, masyarakat harus banyak memproduksi.

“Saat ini garam sangat bagus maka perlu peningkatan produksi,” tegasnya.

Sementara itu, anggota Komisi II DPRD Sumenep Juhari menegaskan, penggunaan geomembran juga dapat mempercepat pembentukan garam atau kristalisasi. Sehingga dapat meningkatkan kualitas garam karena tidak menyentuh langsung ke tanah.

“Berbagai upaya pemkab harus dilakukan. Agar petambak dapat produksi garam lebih banyak,” pungkasnya. (imd/mam)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *